Tampilkan postingan dengan label dream. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dream. Tampilkan semua postingan

Maret 06, 2010

inspiring story

  1. Dari salon kecil, Tien Santoso berhasil membangun bisnis jasa merias pengantin dengan omset Rp. 65 juta per bulan ( tahun 1995 ). Tien mengawali bisnis ini tahun 1974. Pilihan ini timbul karena merias wajah sudah menjadi hobi Tien sejak remaja. Tien Santoso adalah pemilik PT Sanggar Busana Indonesia

( Swa, 09/XI/Desember/1995 ).

  1. Hariono, pengusaha sukses dalam bisnis pijat, namanya Bersih Sehat, meraih ISO 9002 ( tahun 2000 ). Hariono mengatakan, “ Kalau mau bisnis ya mulailah dari yang paling digemari dan diketahui.” Dia memang suka dipijat apalagi ketika badan terasa letih. Baginya dipijat adalah kebiasaan dan kebutuhan sejak muda

( Republika, 3/10/01 ).

  1. Setelah bertahun-tahun menekuni bidang elektronik, Hindarta Rusli berhasil menciptakan amplifier lokal, yang diakui Japan Industrial Standard. Jerih payahnya bertahun-tahun ternyata membuahkan hasil yang menggembirakan. Perkenalan Hindarta dengan dunia elektronik dimulai ketika masih duduk di bangku SMP ( tahun 1970 ). Setelah lulus SMP ( tahun 1973 ), ia melanjutkan studi ke STM jurusan elektronik. Kecintaannya pada bidang ini terus bertambah, bahkan sambil menuntut ilmu, ia bekerja di Wisma Jaya sebagai guru radio

( Majalah Swa, 12/XII/22 Agustus – 11 September, 1995 ).

  1. Mary telah bekerja sebagai manajer Properti selama 12 tahun. Kemudian dia memulai usaha sendiri. Hobi dia membaca, dia mendirikan usaha toko buku. Dia sukses dengan toko bukunya ( Minding Your Own Business, 2001).

  1. Pencetak dan penerbit pertama di Inggris adalah William Caxton. Ia orang kaya yang tertarik ke dunia percetakan karena cintanya pada buku ( Michael Pollard, 1993 ).

  1. Hartati Nur Fatah sukses di usaha furniture. Hobinya mengoleksi mebel antik

( Burhanudin Abe, 2000 ).

  1. Teddy Kardin, kesukaannya adalah pisau. Ia menjadi produsen pisau yang dipakai di kalangan militer dan eksekutif ( Burhanudin Abe, 2000 ).

  1. Wien Aditya Esteves, pemilik Bali Estevez dan Sanggar senam mengatakan,

“ Bisnisku yang ini berawal dari hobiku.” Ia berprinsip : pegang satu keahlian,

dalam, dan cintai pekerjaan itu ( Burhanudin Abe, 2000 ).

  1. Sulaeman, pengusaha sukses di penjualan pompa air yang melompat ke bisnis motor besar. Ia mengatakan bahwa selain menguntungkan, bisnis motor besar sangat menyenangkan, sekalian berbisnis ia dapat menyalurkan hobi motornya

( Burhanudin Abe, 2000 ).

  1. Nyaris semua komikus yang kondang selalu mengawali kariernya dari hobi. Fujimoto Hiroshi dan Abiko Motoo, creator komik Jepang Doraemon dan Ninja Hattori, sudah gila komik sejak SD. Demikian juga komikus Dyotami Febriani, Wahyu Aditya, Pepeng mengawali karier di perkomikan karena berawal dari suka, kemudian menjadi hobi, terus jadi profesi ( Kompas, 3/10/02 ).

  1. Peggy Damayanti, pengrajin origami ( seni melipat kertas yagn berasal dari Jepang ) memperoleh keahliannya karena ia tekun membolak-balik buku berbahasa Jepang. Seringkali buku itu memaparkan urutan secara rinci, tetapi dengan memberi penjelasan secara tertulis. Dia terpaksa mencoba-coba saja, dan itu bisa bongkar pasang sampai dua minggu sebelum mendapatkan hasil yang diinginkan. Hanya karena Peggy senang melakukannya, dia tidak menjadi frustasi. Kunci semua ini memang kesenangan. Usaha Peggy sudah mulai tumbuh, para pembelinya 80% orang-orang Jepang ( Kompas, 12/8/01 ).

  1. Heroe Soepandi, bergerak di bidang usaha arung jeram. Hobinya sebagai peinta alam saat masih menjadi mahasiswa Universitas Tri Sakti.

Omset usahanya ( maret 2003 ) sebesar Rp. 100 juta sampai Rp. 125 juta

( Republika, 12/3/03).

  1. Ir. Untung Rahardjo bertutur tentang awal menekuni bisnis perangko. Mulanya ia berbisnis perangko untuk membiayai kuliah setelah orang tuanya mengalami pailit. Pria berusia 57 tahun ini mengkhususkan diri pada koleksi perangko yang telah dicap. Untung juga yang menjadi penyusun Katalog Perangko Indonesia 2001 dan pernah mendapatkan medali international untuk koleksi stempel serta cap-cap kota itu mengatakan, bisnis perangko cukup prospektif. Buktinya, ia dapat selesai kuliah dengan biaya dari berjualan perangko. Koleksi perangkonya kini telah mencapai 300 album. Ia pernah menjual perangkonya seharga Rp. 30 juta, yakni perangko Pos Militer Daerah Surakarta berangka tahun 1949. Saat ini perangko tersebut termasuk banyak diburu karena semakin langka.

  1. “ Bagi saya, kucing ini bagaikan teman yang sulit dipisahkan.” Ungkap M. Tatty S. Koesman, peternak kucing Persia, di Bandung. Tidak kurang dari 20 ekor kucing, yang sekarang sedang diternak. Kalau dihitung dari awal beternak kucing, maka tidak kurang 100 ekor lebih kucing telah dipelihara, dan kini sebagian telah terjual. Rata-rata kucingnya dijual berkisar antara Rp. 500.000.00 sampai

Rp. 1.000.000.00. “ meskipun saya hobi kucing, namun saya tetap melihat peluang bisnisnya. Saya tidak melulu menggeluti hobi, tetapi juga bagaimana agar hobi ini bisa menguntungkan. Alhamdulillah, kalau dipadukan antara hobi dan bisnis, cukup menjanjikan,” kata Tatty.

  1. I Nyoman Seniweca ST merupakan salah satu figure pengusaha yang berhasil di mana usaha yang digelutinya, yakni penyewaan mobil bermula dari kecintaannya terhadap dunia otomotif. “ Saya ingin menyalurkan hobi di bidang otomotif.”

  1. Pugiarto Haryanto, sukses di bidang dekorasi, telah disinggung di bagian 1 dari buku ini, hobinya mendekorasi ruangan sejak SMA ( SMU ), Suara Merdeka, 6/4/2003).

  1. Sukyatno Nugroho ( Es Teler 77, Mie Tek-Tek, dan Pasti Enak ) yang sudah dijelaskan di bagian 1 buku ini, pernah bangkrut sampai habis-habisan. Tepatnya ini terjadi tahun 1978. Sukyatno terpuruk hutang. Hutangnya dibanding kekayaaan yang dipunyai ketika itu adalah 10:1. Jadi debt service ratio-nya sudah mencapai 1000% di situlah hobi masak Yenny berperan sebagai penyelamat!

( Pinus, 2001 ).

Majalah TIARA 208, Agustus 1998, di Rubrik Fenomena, memberikan banyak contoh tentang orang-orang yang sukses berwirausaha dari hobi, sebagai berikut :

  1. Bill Gates, pendiri Microsoft, orang terkaya di dunia, juga memulai bisnisnya karena hobi computer.

  1. Hanita Gunadi, Toko Kue, Roti dan Jasa Boga Irma. Sejak Remaja Anita hobi membuat kue dan sering membantu ibunya membuat dan menjual kue untuk menunjang keuangan keluarga. Dimulai dari sebuah pavilion sewaan ukuran 3 x 10 meter, ia membisniskan hobinya. Sembilan tahun kemudian, ibu delapan anak ini, membuka cabang usahanya yang pertama di Jalan Kemanggisan Raya Utama no. 9D, Jakarta. Tiga tahun setelah itu, 1991, ia mampu membeli pavilion yang disewanya, berikut rumah induknya dan membangunnya menjadi kantor pusat hingga sekarang. Cabang usaha berikutnya didirikan tahun 1992 dan menjadi cabang utama, di Jl. Pesanggrahan Raya 35 E, Kebon Jeruk, Jakarta barat. Di cabang ini, selain menjual kue, juga ada dapur produksi dan menyediakan hidangan tradisional seperti lotek Bandung, taoge goreng, dan lain-lain. Hingga kini, Irma telah memproduksi lebih dari 120 macam kue dan mampu menyerap 1.000 tenaga kerja.

  1. Astuti, yang sudah dijelaskan di bagian 1 buku ini, mempunyai usaha bernama

“ Ekharia Catering Service.” Berangkat dari kegemarannya memasak, ia memulai usahanya di bidang jasa boga dengan melayani pesanan dari rumah ke rumah. Pesanan demi pesanan terus mengalir, dari perkantoran, pabrik, berbagai pesta dan lain-lain. Bahkan, ia pernah dipercaya menangani acara kenduri nasional dalam rangka peringatan 50 Tahun kemerdekaan RI.

  1. Watty Syamsayuni, Soguri Nursery, sejak kecil Watty hobi membuat bunga dari ketas dan buku, kerajinan rotan, benang wol, dan sebagainya. Karena ingin menyalurkan hobinya menjadi usaha produktif, ia lantas bergabung dengan iparnya di bawah bendera Soguri Nursery – Sokoguru Asri ( Nursery Bonsai Landscaping Specialist ).

  1. Fauzia Fatma Soenarko, Fiska Catering. Sejak muda senang memasak dan mengatur rumah, akhirnya ia membuka usaha catering. “ Untuk mengembangkan bakat dan keahlian,” ujar pemilik Fiska Catering ini. Meski pernah mengenyam pendidikan sekretaris namun Poppy, begitu panggilan akrabnya, tanpa ragu memulai usaha catering dengan modal awal sangat kecil sekali, karena waktu itu hanya melayani tetangga. Sekarang ia bisa memperoleh keuntungan hingga Rp. 3 juta untuk setiap pesanan, dan memiliki 25 karyawan tetap, di samping karyawan kontrak yang disesuaikan dengan kebutuhan. “ Tidak tertutup kemungkinan usaha saya nanti akan melebar ke bidang desain interior dan gardening,” katanya. Tak heran, sebab ia hobi juga menata rumah.

  1. Damayanti. Coklat Gold Pralines. Gara-gara hobi sekali pada makanan terbuat dari coklat dan sering berkreasi untuk dimakan sendiri, akhirnya muncul ide untuk membisniskan hobinya itu. Apalagi beberapa teman dan tetangganya kerap minta dibuatkan. “ Ide itu muncul juga karena saya ingin jadi own boss.” Ujar mantan karyawati sebuah bank ini. Modalnya waktu itu bisa dibilang modal dengkul. Sebab, ia sudah memiliki sejumlah peralatan membuat kue dan hanya tinggal membeli tambahan cetakan kue saja. Sekarang, total omzet yang dimilikinya lebih kurang Rp. 100 juta. “ kalau mau sukses, kita harus terjun sendiri. Dari belanja bahan baku sampai mengaduk adonan, dan bahkan mungkin mengantarkannya sendiri ke pelanggan. Jangan mentang-mentang sudah jadi bos lantas tidak mau turun tangan lagi.,” katanya.

  1. Mulyono, pengusaha sukses Bengkel Knalpot. Sudah sejak lama ia hobi otomotif. Gara-gara suka memperhatikan orang-orang di kampungnya yang kalau pulang kampung bisa bawa mobil dan rata-rata punya usaha bengkel, ia pun terobsesi untuk punya bengkel sendiri. Lantas ia belajar lebih jauh tentang dunia otomotif sampai akhirnya mengkhususkan diri di bidang knalpot. “ Awalnya saya agak ragu karena persoalan tempat, modal dan tenaga kerja. Tapi setelah saya mendapatkan teman yang mengerti betul soal knalpot, saya pun semakin yakin.” paparnya. Sekarang rata-rata ada 20 mobil yang mampir di bengkelnya dengan total omzet sekitar Rp. 60 – 80 juta per bulan ( tahun 1998 ).

  1. Anita Roddick, berhobi mengumpulkan resep-resep kecantikan kuno, mendirikan usaha The Body Shop. Memiliki bisnis yang berkembang pesat dan beromzet jutaan pounsterling, tak pernah dibayangkan Anita Rodick, pendiri The Body Shop. Tapi justru dari hobi yang kemudian dikembangkannya menjadi bisnis,-itu pun dilakukan semata karena suaminya pergi berkelana sementara ia harus menghidupi anaka-anak. Kini jaringan tokonya berjumlah 1.500 buah di 47 negara.

Bisnis/Usaha yang Tidak Terkait Langsung dengan Hobi

  1. Watty Syamsayuni, yang dijelaskan di depan, usahanya telah merambah ke bidang perawatan kecantikan dan jasa perkawinan terutama paket pengantin Palembang yang menjadi andalannya. Selain itu, usahanya juga berkembang ke laundry dan sanggar tari yang latihannya dilakukan di TMII. Nampak bahwa Watty tetap mengembangkan usahanya yang masih terkait dengan hobinya., meskipun tidak terkait secara langsung.

  1. Hobi Miralia Rajasa adalah mengamati detail dan pernik-pernik perabotan yang berasal dari Bali. Ia mendirikan kafe Balimang di Jakarta Selatan. Usahanya sukses. Ia mendisain kafe-nya dengan nuansa etnik bali ( Majalah Pilar, 21/TH. I/21 Oktober, 3/10/1998 ). Dalam hal ini Miralia Rajasa tetap memasukkan hobinya ke dalam usahanya, yakni dalam bentuk desain etnik Bali. Dengan demikian, barangkali ia tetap bisa merasa enjoy dengan usahanya karena ia tetap mampu mencurahkan aktivitas yang digemarinya.

  1. Patrik F Martell mampu memadukan hobi, seni, dan bisnis. Martell yag sekaligus nama perusahaan itu, adalah perusahaan Cognac ternama di Perancis. Patrick mengaku menikmati pekerjaannya sebagai pimpinan sekaligus pemilik perusahaan tersebut dikarenakan ia bisa memadukan antara pekerjaan dengan hobi olah raganya-golf, ski,memancing. Gagasan-gagasannya cemerlang. Ini dikarenakan gagasan tersebut adalah hasil perpaduan antara pekerjaan dan hobinya tersebut. Martell menjadi sponsor tetap acara seni dan olah raga

( Majalah Swa, 09/XI/Desember/1995). Martell sengaja mengaitkan atau

memadukan hobi dengan usahanya.

  1. Hobi Husni Tamrin adalah mengunjungi pameran furniture. Ia pengusaha sukses produk hand made dari tembaga ( burhanudin Abe, 2000 ).

  1. Hardi Wiyono, pengusaha sukses di bidang kerajinan akar wangi, di daerah Semin Gunung Kidul. Di pegunungan tersebut banyak tanaman Loro setu yang menghasilkan akar wangi. Dan memang tanaman ini hanya bisa tumbuh di daerah pegunungan. Awalnya ia hanya menjual akar wangi dalam bentuk ikatan plus bonggolnya. Selanjutnya ia lebih kreatif lalu membentuk akar wangi menjadi berbagai bentuk benda kerajinan. Hasil produksinya begitu disukai banyak orang

( Nova, no. 785/XVI, 16/3/2003 ).

Disini, Hardi mengaitkan hobinya yang naik pegunungan Semin dengan tanaman

loro setu yang memang hanya tumbuh di pegunungan, dimana tanaman itu

menghasilkan akar wangi.

  1. Herry Maryanto, pengusaha kerajinan pasir putih pantai Krakal. Hobinya saat SMA mengambil pasir pantai, untuk main-main di rumah, kemudian di tempel di pot-pot rumah. Kegiatan semasa SMA itulah yang memberinya ide mengembangkan usaha tersebut ( Nova, No.785/XVI, 16/3/2003 ). Ide usaha Herry terinspirasi karena kesenangannya bermain-main dengan pasir pantai sewaktu masih SMA.

  1. Sandy Krakowski yang telah disinggung di depan, berkisah bahwa ia tidak menyangka hobinya membuat roti ketika dia ubah menjadi suatu bentuk bisnis dan dengan bantuan internet untuk memasarkannya, maka dalam waktu 3 tahun, ia mampu meraup penjualan sebesar $ 25 juta! Dan apa yang ia pasarkan dan ia jual bukanlah rotinya itu sendiri melainkan berbagai resep untuk membuat roti, dan kursus-kursus membuat roti.

  1. Agus Subagyo, tinggal di Sukoharjo, bekerja di bagian pelatihan di suatu perusahaan yang cukup besar di Jawa Tengah. Hobinya membaca. Tugasnya adalah membuat, memonitor, sebagai instruktur, dan mengevaluasi pelatihan. Dalam melaksanakan pelatihan, ia sering kali menggunakan LCD. Usaha sampingan dia yang cukup sukses saat ini adalah penyewaan LCD.

  1. Ikhsan, tinggal di yogyakarta, hobi bermain sepakbola. Pekerjaaan : melatih sepak bola anak-anak sampai saat ini. Usaha : berdagang perlengkapan sepak bola khusus anak. Usaha berlanjut : distributor berbagai perlengkapan olah raga.

  1. Parisianti Sambodo, pengrajin keramik yang cukup sukses, memiliki dua gerai di Town Square, Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan, dan Tenda Semanggi. Setiap hari Parisianti ini disibukkan mengolah tanah liat, membentuk, melukisnya sesuai desain yang diinginkan, mewarnai, dan membakar tanah liat. Semua dilakukannya dengan hati yang riang, seperti layaknya orang melakukan hobi. Dia memang seorang arsitektur dan memang berminat di dunai seni ( Kompas, 2/02/2003 ). Ketertarikan bidang arsitektur yang bernilai seni itu, dikaitkan dengan nilai seni ke kerajinan keramik.

  1. Betty Suryanto, seorang guru SMU di Solo, hobinya membaca. Ia sukses membangun usaha bimbingan tes. Kesukaannya membaca buku, “ ditularkan “ ke orang lain dengan berperan sebagai seorang guru dan mendirikan usaha bimbingan tes.

Februari 26, 2010

kreatif membuka usaha

hari ini saya main ke blognya fuad muthie, disitu dia menjelaskan bahwa kita bisa melakukan apapun asal kan kita MAU. punya ke MAU an. karena tanpa kemauan yang kuat, biasanya ide-ide hanya menjadi wacana, alias NATO (No Action Talk Only).ada langkah yang harus di lakukan untuk "pengusaha" pemula, seperti saya..ehm..ehm...amin. antara lain :

# Niat awal membuka usaha: bukan hanya mencari keuntungan. Ada niat mulia dibalik itu, bisa saja niat yang sederhana yaitu ingin membantu orang lain, tapi itu mencerminkan sifat yang mulia. Untuk memulai usaha jangan egois memikirkan untung untuk diri sendiri saja.

# Nothing To Loose, atau mungkin lebih tepatnya Ikhlas menjalaninya, ikhlas mendapatkan untung yang kecil asal orang lain bisa dapat untung. Bisa juga diartikan, buka usaha boleh dan syah-syah saja berharap dapat untung, tapi kalaupun gagal, kita siap menerima akibat / resikonya.

# Target yang terjangkau: target pertama hanya mencari pasar. Coba kalau target pertama sudah dipatok terlalu tinggi misalnya harus untung sekian juta, mungkin ceritanya akan lain. Sekali kita bisa mencapai target pertama, maka untuk menetapkan target berikutnya yang lebih besar kita bisa semakin yakin. Sama seperti naik tangga, selalu diawali dari tangga terendah yang sangat mudah terjangkau.

# Kreatif : Mungkin selama ini kita selalu terpaku pada keinginan sendiri contoh, untuk membuka usaha pakaian harus ada tokonya. sebenarnya tidak perlu membuka toko, cukup menggunakan jasa pemasaran yang direkrut dari lingkungan sekitar. Ide yang sederhana, brilian, dan kadang tidak terpikir. Padahal sebenarnya contoh model usaha seperti ini sudah banyak, MLM misalnya, atau usaha direct selling lainnya. Tinggal lakukan ATM = Amati, Tiru, Modifikasi.

Demikian juga kreatif dalam memutar barang dagangan. Antar pemasar, barang-barang yang tidak laku saling dipertukarkan. Karena memang sering terjadi di tempat yang satu barang A tidak laku, tapi di tempat lain barang yang sama akan mudah laku.

# Bentuk sistem : Sesederhana apapun usaha kita sebenarnya ada sistem di dalamnya. Masalahnya kadang kita biarkan sistem tumbuh liar, tidak kita arahkan dan tidak kita pelihara. Nah Bu Fauziah, juga sudah membentuk sistem, dari sistem pemasaran, sistem stok opname, sistem perhitungan omset dan keuntungan, sistem manajeman produk dan manajeman tenaga pemasar, ada sistem traningnya juga dan sistem lainnya.

Segala keputusan disertai tindakan yang nyata mungkin belum tentu ada hasilnya. Namun Sebuah hasil kesuksesan akan selalu ada tindakan sebelumnya…jadi tetaplah semangat dan berusaha.

Februari 25, 2010

7 kisah bakul kue yang menginspirasi

1. NY Liem :Kursus Kue Bagi Pengusaha dan Pecinta Kuliner

Siapa instruktur kursus roti dan kue paling populer di Bandung? Salah satunya adalah Ny Liem. Sejak tahun 1966 Ny. Liem sudah mengajar berbagai macam kue dan roti namun bukan untuk mencari untung. Di tahun 1971, wanita bernama lengkap Liem Kurnia Awangsih ini mulai rajin berkeliling ke berbagai tempat untuk membagikan keahliannya membuat aneka kue maupun masakan. Baru di tahun 1980-an, ia mengajar di jalan Nampan 52. Tempat ini sekaligus etalase bagi berbagai produk panganan buatannya. Jika kita memasuki Gerai Kue Ny Liem, maka terkesan betapa sempit ruangannya untuk memajang aneka roti, kue basah, kue kering, maupun aneka cakenya. Namun pengunjung terus saja berdatangan. Kalau Anda berkunjung ke sana pada siang hari (setelah jam makan siang), cobalah tengok ruangan di belakang ruang gerai itu, maka Anda akan menyaksikan suasana kursus yang sangat ramai. Saat ini, di usia 77 tahun, Ny Liem sudah tidak aktif mengajar atau membuat kue. Ia sudah menyerahkan tongkat estafet pengelolaan usaha kursus dan gerai roti kepada Chendawati, menantu nya. Istri dr. Gunawan ini memang terbukti memiliki kualitas yang membanggakan dalam mewarisi ilmu dan resep berharga dari sang mertua. Bahkan Chendawati sudah membuat puluhan buku resep dengan tetap memakai judul Buku Resep Ny Liem.

2. Kartika sari : legenda pisang bolen

Sekitar dua dekade yang lalu tidak ada yang menyangka bahwa salah satu ruang latihan yoga di Jalan Haji Ak-bar, Bandung, ini akan berubah menjadi area usaha produksi aneka kue dan pi-sang bolen terbesar di Bandung,” ujar Andrew Purnomo, salah satu putera dari Ratnawati Purnomo sang pionir.Kisah Kartika Sari dimulai pada 1975, ketika Ratnawati membuka usaha kecil-kecilan dengan memproduksi bolu kukus. Selang beberapa waktu kemudian, Kartika Sari menawarkan berbagai jenis kue seperti lapis legit dan bolu. Namun tingkat penerimaan khalayak terhadap aneka produk itu masih biasa-biasa.Memasuki tahun 1986, Rat-nawati mencoba menawar-kan produk pisang bolen. Kali ini, tanggapan konsumen luar biasa. Rasa pisang bolennya yang eksotik membuat penik-matnya ketagihan. Referensi dari mulut ke mulut pun membuat pisang bolen khas Kartika Sari dengan cepat menjadi buah bibir di Kota Bandung. Sampai-sampai sebelum setiap pisang bolennya keluar dari oven, pemesannya sudah antri.

3. Prima Rasa, gigih dan ulet dalam berbisnis

Kegigihan dan keuletan Theresia Yuliaty dalam menjalan-kan bisnis kue dan roti telah membuahkan hasil manis. Gerai Kue Prima Rasa miliknya, telah menjadi salah satu primadona di Ban­dung. Brownies cokelat dan keju, kue soes, pisang dan peuyeum bolen, picnic roll, dan aneka kue lapis menjadi produk andalannya. Gerainya di Jalan Kamuning ini tak pernah sepi pengunjung. Kisahnya bermula dari kecintaan Theresia pada pembuatan kue, sejak dia masih kecil. Saat berusia empat tahun, Theresia kerap diajak tantenya untuk membuat kue, dan dia dengan sukacitamenyambut ajakan itu. Saat duduk di sekolah dasar, dia termasuk siswa yang menonjol dalam ekstrakurikuler memasak maupun membuat kue. Dia sering menjuarai kompetisi membuat kue di sekolahnya. Sampai kini cintanya masih lestari: masih suka mempelajari sesuatu yang baru demi memperkaya variasi kuenya. Di balik suksesnya, ada dukungan keluarga, terutama sang suami, Ade Sur­yana. Semula, Theresia hanya menitipkan kue di beberapa gerai. Lalu, berkat keharuman aroma kue saat dipanggang, banyak orang di sekitar rumah mereka yang datang dan minta agar diperboleh-kan membeli. Ia kemudian menitipkan kuenya pada beberapa gerai. Namun jalan berikutnya adalah jalan terjal bagi ujar ibu dari Alvin dan Elsie . Dalam beberapa hari pertama, sebagian kue yang ia titipkan tidak laku. Ia sempat putus asa melihat tumpukan kue retur. Tapi, kata-kata sang suami membuatnya tegar.

4. Soes Merdeka : kue soes unik dan khas

Gigitan pertama kue Soes Merdeka benar-benar mengejutkan. Jejak rasa Jamaican rhum yang kental langsung terasa hangat di lidah. Vla berupa krim pekat yang diisi di dalam balutan kulit soes yang gurih nan lembut itu sangat melimpah. Hati-hati saat menggigitnya, jika tidak ingin vla yang istimewa itu muncrat dari mulut Anda.Usaha Gerai Kue Soes Merdeka pernah berkibar di tahun 1990-an, saat itu soes Merdeka menjadi buah bibir di kota Bandung. Kue peninggalan Belanda ini menjadi primadona yang harus ada dalam daftar oleh-oleh saat mengunjungi Kota Kembang. “Kami memakai 100 persen rhum Jamaica. Sampai saat ini belum ada yang menyamai produk soes kami. Resepnya sangat spesial dan hanya bisa ditemukan di gerai kami,” kata Bambang Purwanto, Direktur PT Tirta Ratna yang mengelola seluruh gerai Soes Merdeka dan beberapa bisnis lainnya.idak seperti kebanyakan kue soes lainnya, soes Merdeka tahan hingga tiga hari pada suhu ruang. Ini lantaran krim-nnya merupakan paduan bahan segar.

5. French bakery : Pioner roti modern ala taiwan

Nama French Bakery mengingatkan kita pada sebuah ne­geri nan cantik di Eropa, Prancis. Namun nama tersebut tidak ada hubungannya dengan produk-produk roti dan cake yang dijual di gerai itu. Jika ditelusuri sejarahnya French Bakery justru menjadi pionir gerai roti modern dengan produk bergaya Taiwan di Bandung. Gerai roti di Jalan Braga ini sudah terkenal sejak era 1970-an. Mulai beroperasi di Bandung pada tahun 1977, usaha roti bermerek French Bakery mulanya dimi­liki oleh seorang pengusaha asal Taiwan yang bernama Mr Chang. Berlokasi awal di Jalan Kemakmuran, Jakarta. Saat Mr. Chang hendak kembali ke Taiwan, ia tawarkan usaha roti ini kepada pasangan suami istri Achmad Husen dan Herawati Ningsih. Pasangan ini memindahkan usaha roti itu ke Bandung di tahun yang sama. Mereka tak hanya mengambilalih brand French Bakery, tapi juga memboyong mesin-mesin dan lima baker asal Taiwan. Kelima baker Taiwan itu memulai pembuatan roti-roti khas Taiwan untuk French Bakery Bandung, sekaligus me­latih para karyawan lokal sebagai calon pengganti mereka.“Ternyata, sambutan konsumen terhadap produk roti dan kue khas Taiwan sangat positif. Gerai kami dipadati pembeli dari pagi sampai malam,” kata Lomri Husen, putra ­Achmad dan Herawati, yang saat ini menangani French Bakery. Sebagai respon atas membludaknya pembeli kala itu, French Bakery membuka gerai mulai dari pukul 5 dinihari hingga 10 malam. Roti-roti yang baru matang tidak sempat dipajang di etalase karena langsung diborong pembeli. Roti jagung menjadi salah satu favoritnya.

6. Kopaka : Pembuat Kue Dekorasi dan Lapis Legit Kelas Atas

Bagi pemburu oleh-oleh di Bandung, nama Kopaka mungkin tidak terlalu akrab di telinga. Karena tidak ada gerai khusus untuk menjual produk-produknya. Namun bagi para penikmat lapis legit ataupun pemesan cake decoration untuk pesta perkawinan atau ulang tahun, pasti memahami kualitas produk Kopaka. Sebab cake decoration yang dihasilkannya istimewa. Tampilan dekorasinya mewah dan detil, yang mampu membuat kita berdecak kagum. Ini terbukti beberapa kali Kopaka merebut juara kompetisi dekorasi kue.Adalah Ko Khiau Sen atau yang akrab dipanggil Asen, pendiri Kopaka. Orang tuanya di Singkawang pada jaman penjajahan Jepang sudah membuat es krim dengan nama Sudi Mampir. Mesin pembuat es krim dibuat sendiri oleh ayah Asen. Selain es krim, juga dibuat dan dijual aneka kue-kue buatan ibunda Asen. Sang ibulah yang mengajarkan kepada Asen saat kecil, bagaimana cara membuat kue dan roti, termasuk diantaranya lapis legit. Di tahun 1970an Asen hijrah ke Bandung untuk bersekolah. Untuk mengisi waktu luang dia mencoba membuat roti onbekoek untuk dijualnya. Ternyata banyak pembeli yang menyukai roti buatannya. Hatinya gembira dan bersemangat untuk membuat lagi aneka macam kue dan roti untuk dijual.

7. Lily Pattiserie : Duet Juara Kompetisi Pastry

Di daerah sekitar Dago, tepatnya di Jalan Sultan Tirtayasa No. 29, ada sebuah gerai bakery sekaligus cafĂ© yang bersuasana teduh dan asri. Namanya singkat dan cantik: Lily Patiserrie. Pe­ngelolanya adalah dua bersaudara: Yayan Pribadi dan Rossano Pribadi. Pada 1971, Lily Pribadi, ibunda Yayan dan Rosanno, memulai usaha berjualan kue di belakang Pasar Baru Bandung. Pesanan kue-kue yang diterima kebanyakan cheese cake. Yayan sering membantu sang bunda untuk memanggang, membetulkan oven atau mixer yang ngadat. Namun dalam hal sekolah, dia memilih jurusan teknik sipil. Lulus kuliah Yayan, ingin melanjutkan tingkat pasca sarjana ke Belanda sekitar tahun 1991. Namun kondisi hubungan politik Indonesia-Belanda yang tidak bagus saat itu, membuat surat-surat Yayan ke Belanda terdendat. Selama dua tahun tidak ada balasan sama sekali dari Universitas yang menjadi target tempat kuliah S2-nya. Kondisi selama menunggu ini akhirnya membuat Yayan memutuskan membeli rumah di Jalan Trunojoyo Bandung untuk dijadikan tempat usaha gerai kue. Ternyata usaha gerai kue berjalan dengan baik. Rossano, juga aktif membantu. Walaupun tak berlatar belakang pendidikan pastry, minat berdua menaruh minat besar untuk memperdalam teknik mengenai pembuatan kue dan roti. Mereka menguji ketekunan dan ke­mauan mereka dengan aktif mengikuti kompetisi tingkat lokal maupun regional (Asia). Hasilnya sangat membanggakan. Beberapa kali mereka bergantian menjadi juara kompetisi kuliner di dalam negeri dan mendapat hadiah berupa kesempatan mengikuti pelatihan ke luar negeri seperti ke Kanada dan Bangkok.

semua kisah ini diambil dari bakeryindonesiamag.com

Februari 24, 2010

pelajaran tentang bisnis

1.mengambil bola. oke pemula seperti aku tidak perlu memusingkan persaingan bisnis, Ingatlah di pasar orang jualan beras berjejer-jejer dan semua punya rezeki sendiri-sendiri. Tinggal bagaiman masing-masing penjual bisa membuat pelanggannya senang dan kembali lagi untuk membeli. mengambil bola harus punya trik dan teknik yang baik, jika aku mengambil bola dengan kasar, waaahhhh bahaya bisa-bisa kena kartu kuning, bahkan bisa kartu merah. Demikian juga menarik pelanggan gunakan cara yang baik, sehingga pelanggan senang berkunjung ke tempat aku. Kalo perlu pake ilmunya tukang jualan buah, orang dateng disuruh nyicipin dulu, nah setelah yakin rasanya enak pasti dia akan membeli. Dengan kata lain aku dituntut untuk jujur menawarkan produk yang aku punya.

2.Menggiring bola.
Bila pelanggan sudah datang ke tempat aku, maka giringlah dengan baik, jangan sampai direbut orang…ingat !!!! jangan fokus pada uang atau pembelian, tapi cobalah fokus pada pelayanan. Jika mereka merasa nyaman dan puas, nah tunggu saja, mereka juga akan memberikan lebih kepada kita.

Jangan sampai kita tidak mendapatkan apa-apa ketika pelanggan datang, meskipun mereka tidak membeli produk kita. Setidaknya kita bisa memberinya brosur agar mereka lebih mengenal produk kita, atau kita bisa meminta nomer hp nya, sehingga suatu hari kita punya produk baru kita bisa menghubunginya, dan lain sebagainya. Jadi, pelanggan datang sebenarnya kita sudah mendapat “keuntungan” meski mereka tidak membeli produk kita.

Ada pepatah “Banyak tamu banyak rezeki”, Jika kita kedatangan banyak tamu, kita harus menyediakan minum atau mungkin makanan untuk tamu . Disanalah inti dari pepatah tersebut. Lakukan sesuatu untuk orang lain, kita akan mendapat balasan. Kan para Kyai itu juga banyak yang kaya, karena apa? Ya karena banyak tamu yang datang be rumah beliau, tidak hanya puluhan bahkan ratusan, malah ada yang ribuan.

Robert T. Kiyosaki mengatakan, “Kalau kamu bekerja demi jaminan kerja, kamu akan bekerja keras dalam sebagian besar hidupmu. Kalau kamu bekerja untuk membangun bisnis, kamu mungkin bekerja lebih keras pada awalnya tetapi kamu akan bekerja semakin sedikit pada akhirnya dan mungkin akan memperoleh uang sepuluh hingga 100 hingga 1000 kali lebih banyak.”

syarat utama menjadi pebisnis atau wirausahawan. Pertama, kita harus GILA :) . Pebisnis harus mempunyai pola pikir dan pola tindakan yang kreatif yang kadang terlihat “tidak wajar” dimata masyarakat umum. edua, BERANI menanggung resiko. Siapa yang bisa menjamin ketika anda memulai bisnis seketika itu juga akan mendapat keuntungan? Siapa yang bisa menjamin setiap tanggal 1 anda akan memperoleh gaji seperti pegawai kantoran? Bagaimana strategi bisnis anda dipertaruhkan? Bayangkan ketika orang lain menyimpan uangnya di Bank dengan aman dan memperoleh jaminan bunga dari bank, sementara anda mempertaruhkan uang untuk sewa kios, memulai usaha yang notabene TIDAK ADA yang menjamin uang anda akan berbunga. Maka belajarlah untuk menjadi GILA dan BERANI untuk dapat membulatkan tekad menjadi seorang wirausahawan atau PEBISNIS. ehm...emang butuh mental yang kuat kalau ingin memiliki usaha sendiri.

tapi bener nih, diatas semuanya bisnis itu bukan hanya urusan uang belaka.

fadlymuin berkata Jika kita ingin berbisnis, cobalah untuk tidak melulu pikirkan uang. Selain daripada uang, ada nilai-nilai lain yang terbayarkan yang bisa kita nikmati hasilnya.

1. Efek Skill yang akan di capai

2. Networking yang terbangun

3. Pemahaman dan Pengalaman yang luas

4. masih banyak lagi…. (silahkan di fikirkan)

inilah yang saya maksud, jika kita sudah berbisnis dan belum mendapatkan uang yang memadai dari kegiatan bisnis itu. Sebaiknya tidak terburu-buru untuk kecewa. Karena mungkin kita lupa, bahwa efek Soft Skill sudah kita capai. Dan ini adalah yang terlebih penting daripada hanya memikirkan masalah uang.

Dengan keterampilan yang kita miliki itu, maka kita akan dengan mudah untuk membangun bisnis baru. Bisnis yang lebih prospektif. Lebih siap daripada sebelumnya. Semakin banyak dan semakin dalam kita memiliki keterampilan itu, maka semakin mudah dan semakin cepat kita membangun bisnis impian kita.

Ini hampir sama dengan pengertian seorang pebisnis yang gagal dan menuai rugi yang besar. Kata Robert t. kiyosaki, itulah harga yang harus kita bayar. Rugi adalah ongkos kita untuk menjadi pandai di bidang bisnis. jangan lupakan itu.

Sekali lagi, jika bisnis belum bisa memberikan hasil kepada anda. Jangan risau. Bersabarlah! Setidaknya anda sudah mendapatkan efek dari proses itu.

dan mulailah usaha dari yang kecil dulu. ^_______^ semangat!!!!

senang,berhasil,usaha

aku pernah masuk kesalah satu blog yang kata2nya sangat menginspirasi orang seperti aku yang bingung, kenapa aku bingung karena aku ingin mandiri, aku ingin ilmu dan biaya yang sudah dikeluarkan ibuku selama aku sekolah tidak mubazir, aku ingin memiliki eksistensi dan identitas sendiri bahwa selain aku sebagai seorang ibu dan istri aku juga bisa berguna sebagai manusia. karena itu aku mulai mencari apa sebenarnya hal2 yang aku sukai, karena jujur saja dengan masa laluku yang tidak enak aku tidak pernah mengerti apalagi mengasah apa sebenarnya yang menjadi kesukaanku atau hobiku. aku cuman tau bahwa aku mencintai seni, di blog itu dia bilang sebenarnya hobi itu setara dengan senang, senang setara dengan keberhasilan, sementara keberhasilan setara dengan usaha. Jadi intinya jika kita tidak hobi, coba kita senangi dulu, jika sudah kita senangi kemudian kita jadi ingin mencoba tentu saja namanya mencoba adalah berusaha untuk berhasil dan saat mencoba ternyata berhasil akan menjadi suatu kesenangan lagi, kesenangan itu akan menjadi lebih senang jika ada nilai ekonominya walaupun di tingkat paling rendah. berarti aku harus mencari dulu apa yang aku senangi baru, memikirkan tahap selanjutnyakan?